Breaking News

Tak Ada Sosialisasi, Warga Banyusoca Keberatan Rencana Pembangunan Wisata Religi Di Pinggir Sungai Oya

Foto Lokasi Bakal Calon Wisata Religius


Playen, (suaragunungkidul.net)--Rencana pembangunan wisata religi kelas menengah atas di wilayah Padukuhan Ketangi,  Kalurahan Banyusoca, Kepanewon Playen mendapatkan penolakan dari warga. Warga merasa keberatan atas rencana pembangunan dan aktivitas kerohanian lokasi pembangunan,  hal tersebut terjadi karena tidak pernah ada sosialisasi dan etika dari Komunitas Umat Kristiani Batak yang melaksanakan kegiatan tersebut. 

Ketua RW Padukuhan Ketangi, Kalurahan Banyusoca menceritakan puncak keberatan atas aktivitas rohani Komunitas itu tersebut terjadi pada Selasa lalu 22/09. Komunitas yang mengaku dari Keraton Yogyakarta itu menggelar pesta dan aktivitas peribadatan di sebuah lahan yang dibeli dari warga setempat yang tak jauh dari pemukiman warga. Lokasi lahan yang bakal dibangun sebagai Glamourius Camp itu berada di kawasan Sungai Oya. 
 
"Komunitas tersebut melaksanakan kegiatan rohani sudah yang ketiga kalinya. Warga mulai merasa kesal karena jalan menuju lokasi yang baru diperbaiki justru telah rusak karena dilewati oleh mereka, "kata Sumaryo,  Sabtu,  (26/09/2020).

Kekecewaan warga semakin memuncak setelah rombongan komunitas sekitar 20 orang itu tetap membuka akses jalan menuju lokasi yang sudah dipalangi menggunakan bambu. Warga menilai tindakan segerombolan jemaat itu sebagai perbuatan yang tidak mempunyai etika. 



Menurut Sumaryo, mulanya tanah yang digunakan untuk kegiatan rohani adalah milik warga setempat. Namun oleh komunitas Kristen Batak beberapa bidang tanah milik warga setempat dibeli dengan harga yang cukup mahal. 

"Tidak ada masalah karena itu hak mereka,  sah sah saja. Kalau orang Jawa itu punya sopan santun, saat Pandemi wabah seperti ini warga asli sini yang ada diperantauan kalau pulang kampung harus lapor dan karantina terlebih dahulu lho. Jangankan menyapa,  mereka (Komunitas Kristen Batak) tak pernah lapor, "kata Maryo kesal. 

Puncak kekesalan warga terjadi pada Selasa (22/09/2020) saat komunitas tersebut melakukan kegiatan kerohanian.  Warga yang sedang bekerja bakti memperbaiki jalan merasa disepelekan karena sebanyak 20 orang nekat membuka portal jalan menuju lokasi lahan yang mereka beli. 



Lurah Banyusoca,  Kepanewon Playen Damanhuri membenarkan adanya kejadian tersebut.  Saat terjadi penolakan oleh warga pihaknya berada di lokasi. 
Diakuinya tidak pernah ada sosialisasi dan pemberitahuan kepada Pemerintah Kalurahan terkait aktivitas rohani dan rencana pembangunan wisata regili komunitas Kristen Batak. Sehingga sebagai pemangku kepentingan pihaknya mempertanyakan itikad baik komunitas itu. 

"Jangankan Pemerintah Kalurahan, kalau kesini tanpa kulonuwun,  ibaratnya mertamu etikanya saja karena kami menganggap mereka orang luar, "kata Damanhuri. 

Lokasi beberapa bidang tanah tersebut  rencananya bakal dibangun wisata religi untuk kelas menengah atas (Glamourious Camp). Diperoleh informasi bahwa kegiatan peribadatan tersebut telah mendapatkan ijin dari Kepala Dukuh,  namun demikian informasi tersebut tidak diteruskan kepada jajaran Pemerintah Kalurahan.

Redaksi

Tidak ada komentar